Darah dan Doa (film)
Per. Film Nasional Indonesia
mempertundjukkan
The Long March
(darah dan do'a) Rangka Tjerita:
Sitor Situmorang
Tjerita nama2 serta pelaku2 dalam film ini
tidak' ada hubungannja dengan jang ada
atau jang pernah ada
memperkenalkan: Del Juzar Farida, R. Sutjipto, Aedy Awal
Dibantu oleh ribuan Tentera dan Rakjat yang berdjuang
beserta Johanna, Suzanna, Muradi, Muhsjirsani, Ella Bergen, A. Rachman, Raden Ismail
Pemimpin Fotografie... Max Tera
Pemimpin Suara... Sjawaluddin
Pemimpin Artistik... Basuki Resobowo;
Rias Wanita... Rancha'
Ini adalah kisah perjalanan sepasukan Tentara Nasional Indonesia
Juga kisah perjalanan kehidupan manusia dalam revolusi
Ada dua orang teman seperjuangan. Kedua-duanya perwira, yang satu panglima batalion, yang lain kepala stafnya,
Sudarto dan Adam
Syahdan menghadapi suatu peristiwa yang paling menyedihkan di alami bangsa Indonesia. Selama revolusi lima tahun, ialah peristiwa Madiun, September 1948.
Demikianlah dimulai kisah ini. Cerita tentang darah dan air mata, tetapi juga cerita tentang harapan dan doa yang tiada putus-putusnya.
(suara tembakan dan pertempuran)
Pejuang
Berhenti! Berhenti!
Lebih baik kamu menyerah
Tidak akan kami apa-apakan
Pemimpin pemberontak
Saya rasa, kawan-kawan yang cukup jauh mungkin. Baiklah, kita menyerah saja.
Prajurit pemberontak
Bagaimana, Pak?
prajurit pemberontak
Nanti habis kita dipotong.
Pemimpin pemberontak
Jangan khawatir. Aku kenal komandannya.
Prajurit pemberontak
Siapa?
Pemimpin pemberontak
Sudarto. Dahulu kami bersama-sama melawan baret merah di tengah sini.
(suara tembakan dan pertempuran)
Mula
Menyerah tidak? Kalian dikepung.
Pemimpin pemberontak
Siapkan bendera putih.
Prajurit pemberontak
Mungkin mereka sudah berubah, Pak.
Pemimpin pemberontak
Sudarto tidak pernah dan tidak akan berubah. Dia seorang [...] yang baik. tersasar dan masuk tentara.
(Pemberontak menyerahkan diri.)
(Pemberontak mengeluarkan pistol namun segera ditembak oleh pejuang.)
Sudarto
Perlu seribu kali saya katakan, tidak ada tembak menembak kalau tidak perlu, bukan?
Mula
Memangnya saya yang mesti mampus?
Mereka melawan
Sudarto
Kau kenal orangnya?
Mula
Sedikit
Sudarto
Kenali orangnya segera.
Kau kenal Karseno barangkali?
Mula
Iya, saya kenal dia dengan baik
Sudarto
Di mana?
Mula
Karawang
Mula
Ia waktu itu tentara alaskar.
Mula
Anak buah saya dilucuti dan dibunuh. Saya dikejar-kejar macam anjing gila.
Sudarto
Saya kira lebih baik tentara Mula mulai besok dipindahkan ke staf saja.
Mula
Jadi ini upahnya? sedangkan mereka berusaha..
Sudarto
Saya tidak mau tentara dipakai sebagai alat untuk membalas dendam musuhnya sendiri.
Mula
Tapi kan itu musuh...
Sudarto
Tidak ada tapi-nya. Selesai Mula. Silakan
Mula
Kalau tidak mati, mati juga direpotin
Adam
Kau kenal pada Karseno itu?
Sudarto
Dia teman saya waktu di sekolah tadi.
Adam
Aku kira kau bernebih-lebihan, Bung Darto.
Sudarto
Ini revolusi. Teman bunuh teman. Saudara bunuh saudara. Kalau begitu yang kau namakan revolusi agama. Kirim saja aku kembali ke Jawa Barat. Tahu siapa yang dihadapi.
Adam
Kalau begitu aku akur seratus persen, Bung Darto
Adam
Kebetulan baru-baru ini aku menerima surat.
Sudarto
Dari mana?
Adam
Dari Sukabumi. Istriku. Kau ingin baca?
Sudarto
Boleh.
Adam
Tentu. Tak ada rahsianya.
Adam
Bagaimana kabar dengan Mbakyu, Bung Darto?
Sudarto
Masih ada di sana.
Adam
Dan ini potret istriku. Ini anakku.
Sudarto
Lucky guy. Aku cemburu.
(musik)
Sudarto dan tiga rekannya masuk ke sebuah rumah
Prajurit
Dan ini juga penduduk yang mereka kumpulkan
Sudarto
Siapa dia?
Prajurit
Gadis Jerman. Ayahnya baru saja meninggal.
Sarangan, di kaki Gunung Lawu, bernafas lagi. Para prajurit mulai lagi melatih diri untuk menghadapi pertarungan yang entah kapan pula akan tiba. Akan saya sambung sekarang cerita saya, tentang Sudarto, manusia dalam revolusi yang hidup sebagai dalam mimpi, seperti tidak sadar akan apa yang sebenarnya sedang berlangsung di dalam dirinya, dan di alam sekitarnya.
Connie
(menangis di depan makam ayahnya)
Sudarto
Ayahmukah?
Connie
(mengangguk)
Sudarto
Sudah lama dia di sini??
Connie
Sudah tiga tahun.
Sudarto
Nona juga???
Connie
Ayah saya mengajar di sini. Waktu itu saya tinggal dengan ibu saya di Bandung. Waktu ayah saya jadi sakit. Saya datang sini untuk datang kemari.
Sudarto
Nona fasih bahasa Indonesia??
Connie
Ibu saya orang Bandung.
(suara tembakan)
Prajurit
Ada apa??
Sudarto
Sniper.
Sudarto
Kita ikut pulang dulu.
Sudarto adalah umpama orang yang diseret banjir. Bergantung kepada keping kayu apa saja yang hanya dapat diraihnya. Tapi adakah orang yang dapat mengerti keadaannya?
Mengerti kesepian hatinya?
Mula
Aku lama-lama disekap di belakang meja staf ini bisa mampus juga.
(Ramlan menggeser Mula yang duduk di kursi. Mula berdiri)
Mula
Minta rokok. Rokok, Ramlan.
(Ramlan memberikan rokok kepada Mula setengah melempar hingga rokok tsb terjatuh.)
Mula
Lempar.
(Mula memungut rokok terjatuh tsb lalu berbaring di sofa.)
Mula
Kalau aku hidup lagi. lebih baik, aku jadi komandan saja. Naik mobil ke sana kemari. Dapat rumah bagus. Bisa gandeng-gandeng Noni lagi
Ramlan
Baiknya kalau kau hidup sekali lagi jadi celeng saja. Biar kena tembak.
Mula
Tapi penjaga keamanan Pak Kapten yang tercinta ...
Adam
Kapten Sudarto kemana?
Mula
Baru saja pergi, Pak. Sama yang biasa itu. Enaknya jadi komandan kan begitu. Apa-apa aja boleh.
Adam
Aku tidak tanya pikiranmu, ya.
Connie
Enak rasanya membiarkan diri, suka sekali di tengah alam yang bebas ini. Hilang segala batas. Batas-batas yang dibikin manusia. Untuk mempersembitkan dan memperkuat hidup sendiri.
Darto
Aku terpikir apakah saudara juga akan berkata begitu. Kalau kita kembali berada di antara manusia itu.
Connie
Mengapa aku mesti bicara lain di sini?
Darto
Conie, Ada beberapa hal yang ... terkadang aku merasa diriku biadab.
Connie
Kau baik, Darto. Aku sangat terima kasih padamu.
Darto
Connie ...
Connie
Bagaimana?
Darto
Tidak apa-apa. Mari kita kembali.
Prajurit
Salam Adam.
(Memberikan sepucuk surat kepada Adam.)
Adam
Ya, terima kasih.
(Membuka surat)
Adam
Ada kawan dari Jogja.
Darto
Jogja?
Adam
Iya.
Darto
Siapkan rencana Jawa Barat itu secepat-cepatnya, Adam. Mungkin kita akan kembali lekas. Tolong, ya.
Adam
Bung Darto, surat jalan untuk gadis Jerman itu sudah selesai.
Darto
Surat jalan? Kenapa?
Adam
Aku kira barangkali dia ingin kembali ke daerah pendudukan, mengingat suasana.
Darto
Dia sendiri yang minta?
Adam
Tidak.
Darto
Maksudmu, dia kurang diingini di sini?
Adam
Baiklah, aku berterus terang, Bung Darto. Aku sendiri tak enak dengar omongan anak-anak tentang diri Bung dan gadis Jerman itu.
Darto
Aku kan tak bikin apa-apa.
Adam
Aku percaya, tetapi ...
Darto
Aku mengerti. Revolusi, ya?. Boleh aku yang memberikan surat itu padanya.
Apa yang dapat dikatanya selain menerima. Waktu dan ruang diisi oleh perjuangan. sekali lagi perjuangan. Tak ada tempat bagi yang lain. Itu undang-undang revolusi.
Connie
Ada yang mengganggu pikiranmu?
Darto
Sudah beberapa hari ada yang hendak kuberikan padamu.
Connie
Apa itu??
(Darto memberikan surat jalan kepada Connie.)
Darto
Keadaan makin sulit. Kurasa kau lebih suka berada di tempat lain.
Connie
Kau kira untuk ini kau kubersahabati??
Darto
Soalnya begini, Connie. Aku prajurit. Sekarang zaman perjuangan.
Connie
Aku bosan mendengar alasan-alasan itu. Perjuangan, revolusi. Tak ada alasan lebih baik untuk mengusir aku dari sini?
Darto
Ada, Connie. Aku sudah punya istri.
Connie
Kau cinta padanya?
Darto
Barangkali dulu. Mula-mula. Dia setidaknya, Saya juga. Cinta kami adalah cinta yang nyala dengan mendadak. Barangkali, kalau kami tidak jadi kawin, aku masih cinta padanya. Dia ingin bebas, Aku juga.
Connie
Jika kau kelak jadi ke Bandung. maukah kau mau mampir? Kita akan bicarakan hal ini sekali lagi. Maukah kau? Jangan lupa. Heerenstraat 30.
Pertemuannya dengan Connie adalah sebagai dua bahtera yang berselisih selalu di dalam gelap gelita. Bagi banyak orang, aksi militer Belanda kedua datang sebagai suatu pembebasan dari suatu keadaan yang hampir tak tertahan lagi. Begitu juga bagi Sudarto.
