Lompat ke isi

Sardar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sardar-I-Azam, Pangeran Abdol Majid Mirza dari Qajar Persia ca1920-an.
Presiden Pakistan Ayub Khan dan Ibu Negara AS Jacqueline Kennedy bersama kuda gelding berharga bernama "Sardar".[1]
Wazir Agung Ahmet Tevfik Pasha, Serdar-ı Azam terakhir Kesultanan Utsmaniyah.
Serdar Janko Vukotić dari Kepangeranan dan Kerajaan Montenegro.

Sardar (Persia: سردار, romanized: Sardâr, pelafalan [sæɹˈdɒːɹ]; terj. har.'komandan, pemimpin') adalah sebuah gelar kerajaan dan kebangsawanan yang awalnya digunakan untuk menandai pangeran, bangsawan, raja, dan kaum aristokrat lainnya. Gelar ini juga digunakan untuk merujuk pada kepala suku atau pemimpin suatu kelompok. Dalam konteks bahasa Persia, istilah ini merupakan sinonim dari gelar Emir yang berasal dari bahasa Arab.

Istilah ini beserta turunannya berasal dari bahasa Persia sardār (سردار) dan secara historis telah digunakan di seluruh kawasan Persia (Iran), Kesultanan Utsmaniyah dan Turki (sebagai "Serdar"), Afganistan (sebagai "Sardar" untuk anggota klan kerajaan Mohammadzai yang berarti bangsawan), Mesopotamia (sekarang Irak), Suriah, Asia Selatan (Pakistan, India, Bangladesh, dan Nepal), Asia Tengah (di Tajikistan dan Uzbekistan sebagai "Sardor"), Kaukasus, Balkan, dan Mesir (sebagai "Sirdar").[2]

Di kalangan umat Sikh, istilah ini mulai diadopsi karena pengaruh Afganistan pada pertengahan abad ke-18 untuk menandai pemimpin sebuah Jatha atau Misl, dan secara bertahap menggantikan istilah terdahulu seperti 'Jathedar' dan 'Misldar'.[3] Istilah sardar digunakan oleh para pemimpin dan jenderal Sikh yang memegang posisi penting di berbagai Misl Sikh. Gelar ini masih umum digunakan oleh orang Sikh hingga saat ini. Meskipun secara historis menandakan pangkat militer atau keanggotaan dari keluarga lokal yang berpengaruh, pada era kontemporer gelar ini digunakan secara luas di India dan negara-negara tetangganya untuk menyapa pria Sikh yang dihormati.

Sardar juga digunakan untuk merujuk pada jenderal-jenderal Kekaisaran Maratha. Setelah runtuhnya sistem feodalisme, sardar kemudian mengindikasikan seorang Kepala Negara, Panglima tertinggi, dan sebuah pangkat militer angkatan darat. Sebagai pangkat militer, seorang sardar biasanya menandai Panglima Tertinggi atau perwira militer berpangkat tertinggi dalam suatu angkatan perang, setara dengan Field Marshal modern, Jenderal Besar, atau Kepala Staf Angkatan Darat. Gelar yang lebih bersifat administratif seperti Sirdar-Bahadur menandai seorang Gubernur Jenderal atau Menteri Utama dari provinsi terpencil, mirip dengan Raja Muda (Viceroy) Inggris. Istilah ini digunakan secara informal di India dan Pakistan untuk merujuk kepada pria Sikh mana pun yang mengenakan serban. Sementara itu, istilah "Sardarni" digunakan untuk merujuk kepada wanita Sikh.

Dalam aktivitas pendakian gunung di Himalaya, seorang sirdar adalah pemimpin lokal dari orang-orang Sherpa.[4] Di antara tugas-tugasnya, ia mencatat ketinggian yang dicapai oleh setiap Sherpa, yang menjadi faktor penentu dalam kompensasi atau bayaran mereka.

Contoh penggunaan regional

[sunting | sunting sumber]

Aristokrat

[sunting | sunting sumber]
  • Di Divisi Hazara di Pakistan, kata Sardar digunakan oleh suku Karlal secara tradisional untuk menegaskan status kasta atas mereka.
  • Di distrik Poonch dan Sudhanoti di Kashmir, Sardar digunakan oleh suku hibrida Sudhan dan Douli. Selain itu, keluarga suku lain di Poonch juga menggunakan Sardar di awal nama mereka.
  • Demikian pula, Sardar digunakan oleh para bangsawan suku Khattar yang merupakan penduduk asli distrik Attock dan daerah sekitarnya di Rawalpindi.
  • Sardar digunakan untuk posisi politik, kesukuan, militer, dan keagamaan yang penting oleh kaum Sikh selama periode Maharaja Ranjit Singh.

Kepala negara

[sunting | sunting sumber]
  • Dalam bahasa Persia, Sardar i-Azam kadang-kadang digunakan sebagai gelar alternatif bagi Kepala Pemerintahan Shahanshah, yang biasanya bergelar Vazir i-Azam, terutama pada tahun 1904-1906 untuk pangeran Qajar, Pangeran Mayor Jenderal Abdol Majid Mirza.
  • Vallabhbhai Patel, Wakil Perdana Menteri India yang pertama, sering disebut sebagai Sardar Patel; ia sekarang juga dikenal sebagai "Manusia Besi India".
  • Sadr-e-Riyasat adalah gelar Kepala Negara Konstitusional dari negara bagian kerajaan Kashmir, Yuvaraj Shri Karan Singhji Bahadur.
  • Mohammad Daoud Khan dari Afganistan menyandang gelar Sardar saat menjabat sebagai presiden.
  • Saparmurat Niyazov, pemimpin otoriter Turkmenistan pada tahun 1990–2006, menyandang beberapa gelar agung, salah satunya adalah Serdar (“Pemimpin”).[6]

Pangkat militer

[sunting | sunting sumber]
Sebuah Durbar Kekaisaran Maratha yang menunjukkan Pemimpin (Raja) dan para bangsawan (Sardar, Jagirdar, Istamuradar & Mankari) dari negara bagian.
Seorang sardar Sikh.
Bhakti Thapa, seorang Sardar Gorkhali.

Penggunaan modern

[sunting | sunting sumber]
  • Istilah Sardar saat ini digunakan untuk merujuk pada pengikut pria dewasa dari agama Sikhisme, karena banyak orang Sikh yang telah mengabdi dalam berbagai posisi berpangkat tinggi di Angkatan Darat India. Contoh terkemuka termasuk Jenderal Joginder Jaswant Singh dan Harbaksh Singh.
  • Dalam pendakian gunung di Himalaya, seorang Sirdar adalah pemimpin lokal dari orang-orang Sherpa dan para porter.[7]
  • "Siridar" adalah gelar penguasa planet dalam novel fiksi ilmiah Dune karya Frank Herbert. Pasukan elit Kaisar Padishah juga disebut sebagai Sardaukar.
  • Sardar sekarang digunakan untuk para pemimpin suku di Pakistan, Afganistan, dan India. Banyak komunitas dan suku di anak benua India, terutama di Punjab dan Kashmir, menggunakan gelar ini, termasuk Dogar, Jat, Gujjar, Mughal, dan Sikh.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Jackie Kennedy receives horse from governor of Pakistan – Mar 23, 1962 – HISTORY.com". history.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-03-17.
  2. 1 2  Chisholm, Hugh, ed. (1911). "Sirdar" . Encyclopædia Britannica. Vol. 25 (Edisi 11). Cambridge University Press. hlm. 154.
  3. Singh, Harbans. The Encyclopedia of Sikhism. Vol. 2: E-L. Punjabi University, Patiala. hlm. 362–3.
  4. Sayre, Woodrow Wilson (1964). Four Against Everest. Englewood Cliffs, NJ, USA: Prentice-Hall. Library of Congress Catalog Card No: 64-15208 223.
  5. "Royal Kapurthala Dynasty History".
  6. Cummings, Sally N. (2010). Symbolism and Power in Central Asia: Politics of the Spectacular. Milton, United Kingdom: Routledge. hlm. 91–92. ISBN 978-0415575676.
  7. Sayre, Woodrow Wilson (1964). Four Against Everest. Englewood Cliffs, NJ, USA: Prentice-Hall. hlm. 223. Library of Congress Catalog Card No: 64-15208.