Perang dagang
Perang dagang adalah konflik ekonomi yang terjadi ketika suatu negara memberlakukan atau meningkatkan tarif atau hambatan perdagangan lainnya sebagai balasan terhadap hambatan perdagangan yang ditetapkan oleh pihak yang lain.[1] Perang dagang diakibatkan oleh kebijakan proteksionisme, yang biasanya diberlakukan oleh suatu negara untuk melindungi produsen lokal, untuk mengembalikan lapangan pekerjaan dari luar negeri, atau akibat persepsi bahwa praktik dagang negara lain itu tidak adil dan perlu diimbangi dengan tarif.[2][3]
Terdapat konsensus di kalangan ahli ekonomi bahwa proteksionisme berdampak buruk terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan,[4][5][6][7] sementara perdagangan bebas, deregulasi dan reduksi hambatan perdagangan akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi.[5][8][9][10][11] Perang dagang dan proteksionisme juga dianggap sebagai penyebab beberapa krisis ekonomi, khususnya Depresi Besar.[12]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Sejarah perang dagang dapat dilacak sejak era perdagangan global dan globalisasi. Globalisasi membuka arus perdagangan internasional semakin meningkat, tetapi juga meningkatkan potensi terjadinya perang dagang.[13] Skala dan lingkup perang dagang semakin berkembang mengikuti perkembangan jumlah negara yang terlibat dalam perdagangan internasional. Tercatat setidaknya terdapat beberapa fenomena yang dapat disebut sebagai perang dagang, yakni Perang Inggris-Belanda yang berlangsung pada abad ke-17 hingga ke-18 yang memperebutkan jalur pelayaran dan jalur perdagangan strategis bagi dua negara imperialis tersebut; kemudian kebijakan Tarif Smoot-Hawley di Amerika Serikat pada 1929 yang membatasi impor; kebijakan substitusi impor dan perlindungan industri negara-negara Amerika Latin pada dekade 1970-an; dan perang dagang Amerika Serikat melawan Tiongkok dan negara lainnya sejak 2024.[14]
Mekanisme
[sunting | sunting sumber]Ada beberapa mekanisme perang dagang yang bisa diterapkan oleh negara.
Tarif
[sunting | sunting sumber]Negara dapat memberlakukan hambatan tarif seperti bea masuk, pajak impor, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, Amerika Serikat memberlakukan tarif pada Tiongkok sebagai bagian dari strategi perang dagang.[2]
Devaluasi mata uang
[sunting | sunting sumber]Devaluasi adalah pelemahan mata uang terhadap mata uang asing. Hal ini bisa digunakan untuk membuat ekspor lebih murah dan impor lebih mahal, sehingga mengurangi ketergantungan impor.[2]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]Catatan kaki
[sunting | sunting sumber]- ↑ "What is trade war? definition and meaning". BusinessDictionary.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2018-06-21. Diakses tanggal 2017-08-15.
- 1 2 3 "Seri Perang Dagang: Memahami Arti Perang Dagang dalam Pertikaian Keras Cina dan AS". Tempo. 12 Maret 2025 | 07.18 WIB. Diakses tanggal 2026-05-20.
- ↑ Staff, Investopedia. "Trade War".
- ↑ Fairbrother, Malcolm (2014-03-01). "Economists, Capitalists, and the Making of Globalization: North American Free Trade in Comparative-Historical Perspective". American Journal of Sociology. 119 (5): 1324–1379. doi:10.1086/675410. ISSN 0002-9602.
- 1 2 N. Gregory Mankiw, Economists Actually Agree on This: The Wisdom of Free Trade, New York Times (April 24, 2015): "Economists are famous for disagreeing with one another.... But economists reach near unanimity on some topics, including international trade."
- ↑ "Economic Consensus On Free Trade". PIIE (dalam bahasa Inggris). 2017-05-25. Diakses tanggal 2018-02-27.
- ↑ Poole, William. "Free Trade: Why Are Economists and Noneconomists So Far Apart?" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-02-27.
- ↑ "Free Trade" (dalam bahasa American English). IGM Forum. March 13, 2012.
- ↑ "Import Duties" (dalam bahasa American English). IGM Forum. October 4, 2016.
- ↑ "Trade Within Europe | IGM Forum". www.igmchicago.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2017-06-24.
- ↑ William Poole, Free Trade: Why Are Economists and Noneconomists So Far Apart, Federal Reserve Bank of St. Louis Review, September/October 2004, 86(5), pp. 1: "most observers agree that '[t]he consensus among mainstream economists on the desirability of free trade remains almost universal.'"
- ↑ Irwin, Douglas (2017). Peddling Protectionism: Smoot-Hawley and the Great Depression. Princeton University Press. hlm. vii-xviii.
- ↑ Sheng & Felix do Nascimento 2021, hlm. 1-6.
- ↑ Zeng & Liang 2022, hlm. 1.
Daftar pustaka
[sunting | sunting sumber]- Sheng, Li; Felix do Nascimento, Dmitri (2021). Love and Trade War. Singapore: Springer Singapore. doi:10.1007/978-981-33-4897-4. ISBN 978-981-334-896-7.
- Zeng, Ka; Liang, Wei (2022). "Chapter 1: Introduction: trade wars past and present: causes, dynamics and consequences". Dalam Zeng, Ka; Liang, Wei (ed.). Research Handbook on Trade Wars. Cheltenham, UK: Edward Elgar Publishing. doi:10.4337/9781839105708. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)