Lompat ke isi

Kuil Romawi Bziza

Kuil Romawi Bziza
Nama lokal
معبد بزيزا  (Arab)
Tampilan tiga perempat kuil dengan empat pilar ionik yang berdiri di bagian depan; kuil ini dibangun dengan batu kapur abu-abu dan berdiri di atas padang rumput hijau dengan pohon poplar di sebelah kirinya.
Kuil Azizos di Bziza
Peta
LokasiBziza, Lebanon Utara
Koordinat34°16′12″N 35°49′18″E / 34.2699°N 35.8216°E / 34.2699; 35.8216
DibangunAbad ke-1 M
Dibangun untukAzizos
Gaya arsitekturOrdo Ionik, Romawi
Kuil Bziza di Lebanon
Kuil Bziza
Kuil Bziza
Lokasi Kuil Romawi Bziza in Lebanon

Kuil Romawi Bziza adalah bangunan dari abad ke-1 M yang terawat dengan baik dan didedikasikan untuk Azizos, personifikasi dari bintang fajar dalam politeisme Arab kuno. Kuil Romawi ini menjadi asal-usul nama kota Bziza di Lebanon modern, karena Bziza merupakan bentuk perubahan dari Beth Azizo yang bermakna rumah atau kuil Azizos. Azizos diidentifikasikan sebagai Ares oleh Kaisar Julianus.

Bangunan tetrastila prostila ini memiliki dua pintu yang menghubungkan pronaos dengan cella berbentuk persegi. Di bagian belakang kuil terdapat sisa-sisa adyton tempat patung-patung dewa pernah berdiri. Kuil kuno ini berfungsi sebagai aedes, tempat bersemayamnya dewa. Kuil Bziza dialihfungsikan menjadi gereja dan mengalami modifikasi arsitektur selama dua fase Kristenisasi; pada periode Bizantium Awal dan kemudian pada Abad Pertengahan. Gereja tersebut, yang hingga masa modern dikenal dengan sebutan Bunda Maria Pilar (Lady of the Pillars), akhirnya menjadi rusak dan terbengkalai. Terlepas dari kondisi gereja tersebut, devosi Kristen masih dipelihara pada abad kesembilan belas di salah satu ceruk kuil. Kuil Bziza ditampilkan dalam berbagai prangko yang diterbitkan oleh negara Lebanon.

Latar belakang sejarah

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 64 SM, jenderal Romawi Pompey menganeksasi Fenisia ke dalam provinsi Romawi Suriah setelah bertahun-tahun mengalami kekosongan kekuasaan yang kacau akibat perang dinasti Seleukia.[1][2] Dalam risalahnya mengenai sejarah Fenisia, penulis asal Byblos, Philo, menegaskan bahwa dewa dan dewi yang dipuja di Fenisia merupakan dewa-dewi Fenisia yang telah terhelenisasi.[3] Gelombang Helenisasi budaya ini memunculkan patriotisme pan-Fenisia dan keterikatan yang lebih mendalam terhadap tradisi keagamaan pra-Helenis.[3] Devosi masyarakat Fenisia kepada dewa-dewa kuno terus berlanjut di bawah kekuasaan Romawi sebagaimana dijelaskan dalam risalah De dea Syria [Tentang Dewi Suriah] karya retor abad kedua Masehi, Lucian dari Samosata. Lucian mengunjungi kota-kota suci di Suriah, Fenisia, dan Libanus, tempat di mana berbagai tempat suci pegunungan tersebar di seluruh pedesaan.[4][5] Pembangunan kuil, urbanisasi, dan monumentalisasi kota dibiayai oleh dana abadi yang melimpah dari raja-raja klien dan warga kaya yang berupaya meningkatkan kekuasaan dan lingkup pengaruh mereka. Kemakmuran Fenisia Romawi pada gilirannya didorong oleh ekspor maritim dan peningkatan status berbagai kota Fenisia menjadi Koloni Romawi,[a] yang memberikan hak Kewarganegaraan Romawi kepada para penduduknya.[6]

Pembangunan

[sunting | sunting sumber]

Kuil Bziza dibangun pada masa Dinasti Julio-Claudian di abad pertama Masehi, pada saat hegemoni Romawi atas wilayah tersebut tengah dikukuhkan.[7] Orang-orang Fenisia melestarikan tradisi kuno dalam membangun tempat suci di ketinggian dan kawasan-kawasan keramat.[8][9][10] Kuil-kuil ditempatkan di atas atau menghadap puncak gunung yang diyakini sebagai tempat bersemayam suci para dewa dan raksasa, yang dijaga oleh manusia zaman dahulu dan binatang buas.[5][11][9] Di bawah pengaruh kekuatan suzerain (negara induk), kuil-kuil Fenisia dihelenisasi dan kemudian diromanisasi sembari tetap mempertahankan keseimbangan antara elemen asing dan arketipe arsitektur Semit, yang di antaranya meliputi altar menara, temenoi, dan cella dengan adyton yang ditinggikan.[12][13] Kuil Bziza menganut model ini, yang menjadi karakteristik kuil-kuil Fenisia yang teromanisasi.[14]

Kemunduran

[sunting | sunting sumber]

Kebijakan represi dan penganiayaan terhadap paganisme dimulai pada masa pemerintahan Konstantinus I ketika ia memerintahkan penjarahan dan penghancuran kuil-kuil Romawi.[15][16] Putra Konstantinus, Konstantius II, mengeluarkan serangkaian dekret yang memberlakukan persekusi formal terhadap kaum pagan;[17] ia memerintahkan penutupan semua kuil pagan dan melarang pengorbanan pagan dengan ancaman hukuman mati.[18] Di bawah pemerintahannya, umat Kristen biasa mulai melakukan vandalisme terhadap kuil, makam, dan monumen pagan.[19][20][21]

Kuil Bziza dialihfungsikan menjadi gereja pada periode Bizantium awal antara abad kelima dan keenam[22][23] serta mengalami modifikasi struktural lebih lanjut selama Abad Pertengahan antara abad kedua belas dan ketiga belas.[23][24] Bangunan ini secara umum dikenal sebagai Gereja Bunda Maria Pilar (Arab: كنيسة سيدة العواميد).[25][26]

Sejarah modern

[sunting | sunting sumber]
Salinan hitam putih sketsa yang memperlihatkan reruntuhan kuil Romawi dalam pandangan tiga perempat. Sebuah pohon tumbuh di dalam dindingnya.
Sketsa kuil Bziza tahun 1838 karya pelukis Prancis Antoine-Alphonse Montfort. Gambar ini memperlihatkan modifikasi yang dilakukan pada kuil tersebut dan sebuah pohon yang tumbuh di dalam dindingnya.
Sketsa oleh Lehoux, diterbitkan dalam Voyage en Syrie karya Laborde tahun 1838.

Pada tahun 1838, pelukis orientalis Prancis Antoine-Alphonse Montfort dan François Lehoux [fr] mengunjungi dan melukis reruntuhan kuil tersebut.[27] Pada tahun 1860, ahli bahasa dan peradaban Semit asal Prancis, Ernest Renan, mengunjungi kuil tersebut; ia menjelaskan bahwa Toponimi Bziza merupakan bentuk perubahan dari kata Fenisia Beth (atau Beit) Azizo dan menisbahkan kuil kota itu kepada Azizos.[28][29][b] Orientalis Jesuit Flandria Henri Lammens, yang mengajar di Universitas Saint Joseph Beirut pada saat itu, juga mengunjungi situs tersebut pada tahun 1894 dan memotret reruntuhan kuil.[30] Lukisan abad kesembilan belas dan foto awal abad kedua puluh memperlihatkan sisa-sisa kapel yang telah dipindahkan serta pohon ek yang berakar di dalam kuil.[31]

Pada awal abad ke-20, sejarawan arsitektur Jerman Daniel Krencker melakukan survei di situs tersebut, yang kemudian memublikasikan temuannya dengan bantuan arkeolog Willy Zschietzschmann [de] dalam buku Römische Tempel in Syrien ("Kuil-kuil Romawi di Suriah").[32] Menurut Krencker, kapel tersebut telah lama runtuh dan devosi Kristen masih dipertahankan pada abad ke-19 di "ceruk dekat pintu".[23]

Pada tahun 1965, situs ini digali lebih lanjut oleh arkeolog Lebanon-Armenia Haroutune Kalayan,[33][34] yang menyingkap podium dan denah arsitektur separuh pedimen depan yang terukir di salah satu dinding kuil.[35] Pada tahun 1990-an, Direktorat Jenderal Purbakala Lebanon membersihkan bagian-bagian kapel selama pekerjaan restorasi untuk menonjolkan sisa-sisa kuil kuno; hanya apse dan pilar batu persegi panjang dari kapel Kristen yang tersisa.[31]

Reruntuhan kuil Bziza ditampilkan pada prangko 35 piaster Lebanon tahun 1971, dan pada prangko 200 piaster Lebanon tahun 1985. Kuil ini muncul kembali pada prangko Lebanon tahun 2002.[36]

Azizos (Palmyra: 𐡰𐡦𐡩𐡦 ʿzyz)[37] adalah dewa Arab sang bintang fajar;[38][39][40] Sarjana alkitabiah Jerman Paul de Lagarde menunjukkan bahwa Lucifer adalah salah satu julukan dewa tersebut.[41] Dalam sebuah prasasti Dacia, Azizos diberi gelar Deus bonus puer Phosphorus [dewa muda Fosforos yang baik].[42][43] Ia digambarkan di kota kuno Suriah Palmyra sebagai seorang penunggang kuda, ditemani oleh saudara kembarnya sang penunggang unta Arsu (juga disebut Monimos dalam tulisan-tulisan selanjutnya).[37] Arsu diyakini oleh Teixidor sebagai personifikasi dari bintang senja.[37] Kedua dewa tersebut dianggap sebagai pelindung para pedagang.[44] Dalam karya Kaisar Julianus "Hymne untuk Raja Helios", Azizos digambarkan sebagai padanan dewa perang Yunani Ares, dan Monimos disamakan dengan Hermes, dewa perdagangan dan para pelancong.[45][46] Menurut Julianus, kultus Azizos dan Monimos dikaitkan dengan Helios di kota kuno Emesus; ia juga menceritakan bahwa Azizos mendahului Helios dalam prosesi suci.[45]

Bukti bahwa Aziz, dan lebih sering Azizu, digunakan sebagai nama depan umum dan kerajaan banyak ditemukan dalam prasasti Palmyra dan Emesan.[47][48] Bentuk Latin lainnya, Azizus, ditemukan dalam perkamen militer Romawi dan papiri.[49] Dalam bahasa Semit, akar kata ʿzyz berarti "perkasa" atau "kuat".[48] Pasangan wanita dari ʿAziz adalah dewi Ozzā, yang dipuja oleh orang Semit dan merupakan salah satu dari tiga dewi utama dalam agama Arab pra-Islam.[43][42]

Peta lokasi kuil Romawi Bziza dan sisa-sisa kuil di sekitarnya di Lebanon Utara

Kota Bziza[c] terletak di Distrik Koura dalam pembagian administratif Governorat Utara Lebanon, 83 kilometer (52 mi) di sebelah utara Beirut. Kota ini berada pada ketinggian rata-rata 410 meter (1.350 ft), di ujung selatan dataran Koura (Amioun).[25][50] Kuil ini terletak 350 meter (1.150 ft) di selatan pusat kota,[d] pada ketinggian 450 meter (1.480 ft) di atas permukaan laut.[51] Kuil tersebut menempati posisi sentral di dalam wilayah yang dipenuhi dengan tempat-tempat suci era Romawi, beberapa di antaranya bertahan dengan berbagai tingkat kelestarian di desa-desa tetangga.[52] Di antaranya adalah sisa-sisa kuil Amioun di utara Bziza, kompleks kuil Romawi besar Qasr Naous di Ain Aakrine, 3 kilometer (1,9 mi) di timur laut Bziza,[53][54][55] dan Kuil Merkurius di Hardine, yang berdiri di puncak gunung pada ketinggian 1.500 meter (4.900 ft).[55] Lebih jauh ke selatan, di seberang sungai Nahr el-Jaouz, rantai kuil yang mengelilingi Bziza berlanjut dengan kuil-kuil di Bcheale, yang terletak sekitar 1.500 meter (4.900 ft) di atas permukaan laut, dan kuil di Assia, pada ketinggian sekitar 900 meter (3.000 ft).[55]

Arsitektur dan deskripsi

[sunting | sunting sumber]
Denah lantai arsitektur sebuah kuil Romawi dengan tinta hitam dengan dua apsis berbentuk tapal kuda berwarna abu-abu
Denah kuil Bziza dengan modifikasi selanjutnya yang berwarna abu-abu.

Kuil Bziza adalah bangunan tetrastila prostila yang terawat baik dengan detail ordo Ionik.[56] Kuil persegi panjang berbatu ashlar ini berukuran 85 meter (279 ft) kali 14 meter (46 ft).[57][58][59] Pronaosnya menghadap ke barat laut dan berukuran 655 meter (2.149 ft) kali 29 meter (95 ft);[34][60] bagian depannya dipagari oleh pilar-pilar tanpa alur yang berdiri di atas basis yang diukir dengan gaya Attika.[34] Pilar-pilar tersebut memiliki tinggi 593 meter (1.946 ft) dan diameter 067 meter (220 ft).[61] Tiga dari pilar monolitik pronaos kuil masih berdiri, sedangkan pilar keempat, yang ditemukan di sudut utara kuil, patah menjadi dua bagian dan didirikan kembali selama pekerjaan restorasi.[34] Pilar-pilar tersebut dimahkotai dengan kapital Ionik yang menopang sebuah frieze yang membentang di atas tiga dari empat pilar. [34][62] Ruang di antara pilar tengah lebih lebar daripada ruang di antara pilar distal (tepi).[63] Kolonade (barisan pilar) ditambahkan pada tahap selanjutnya dari pembangunan kuil sebagaimana ditunjukkan oleh gaya kapital ionik yang mengikuti model yang ditemukan di Suriah dan Anatolia pada abad kedua Masehi.[34][64] Pronaos ini terawat dengan baik, dibingkai oleh antae pendek yang diakhiri dengan pilaster bersudut yang diulang di bagian belakang bangunan.[34] Kuil ini dapat diakses melalui tangga yang telah dibongkar.[34]

Pronaos terhubung ke cella melalui dua pintu masuk: pintu tengah yang masif dan didekorasi dengan mewah, serta pintu samping yang lebih kecil yang terletak di sebelah kiri pintu masuk utama.[34][63] Kusen pintu utama dihiasi dengan fasciae. Dekorasi ambang atas dan entablatur direalisasikan dengan halus dengan tiga fasciae yang dihiasi dekorasi tumbuhan yang kaya. Kornis menampilkan modillion yang menyangga gambar dua Victoria kecil yang sejajar secara diagonal di kedua sudut kornis. Batu penitis pintu besar tersebut bergaya Korintus. Pintu kuil yang lebih kecil hanya memiliki dua fasciae. Ambang atasnya dihiasi dengan frieze dan batu penitis Korintus.[34]

Sembilan diagram yang menunjukkan denah lantai berbagai jenis kuil Yunani-Romawi. Keterangan masing-masing jenis berbunyi: Tholos, Kuil in antis, Kuil ganda in antis, Tetrastila Prostila, Tetrastila Amfiprostila, Heksastila pseudoperipteral, Oktastila pseudoperipteral, Heksastila peripteral, Oktastila peripteral.
Diagram tipologi kuil. Di sudut kiri bawah, diagram ini menggambarkan kuil tetrastila prostila, tanpa adyton yang ditemukan di bagian belakang cella di Bziza.

Cella terdiri dari dua ruangan, yang pertama berbentuk persegi kasar diikuti oleh adyton di bagian belakang bangunan.[14] Di kedua sisi dinding cella kuil terdapat ceruk yang pernah digunakan untuk menampung patung.[22] Dua ceruk di dinding cella sebelah kanan masih ada. Ceruk pertama di bagian atasnya terdapat bentuk kerang; ceruk lainnya polos dan berbentuk persegi panjang.[14] Pilar-pilar kecil berdiri di depan ceruk-ceruk tersebut; pilar-pilar ini menopang arkitraf sederhana dan arkivolt dengan tiga fasciae.[14] Jejak platform adyton terlihat di bagian belakang kuil. Adyton dapat dikenali dari sisa-sisa dua pilaster dengan basis gaya Attika di dinding barat daya. Basis pilaster tersebut terletak 166 meter (545 ft) di atas permukaan lantai cella yang menunjukkan bahwa bagian tersebut merupakan bagian dari edicule kuil, yang pernah menampung patung dewa kuil.[14][65]

Kalayan mencatat bahwa bagian luar dinding cella barat daya memuat tanda sketsa arsitektur untuk perakitan setengah pedimen pronaos kuil.[35][66][67] Sketsa ukiran lain menunjukkan rencana entablatur kuil.[68] Pedimen yang sekarang hilang itu berukuran 85 meter (279 ft) kali 3 meter (9,8 ft).[69] Penggalian yang dilakukan oleh Kalayan mengungkapkan adanya podium tinggi yang tidak dicatat dalam survei Krencker.[34] Podium yang belum selesai itu membentang di sisi barat daya kuil dan secara struktural terpisah dari pondasi kuil.[34][70] Penambahan ini menunjukkan adanya rencana yang belum selesai untuk mengubah kuil prostila menjadi peripteros.[70]

Sketsa arsitektur hitam di atas putih dari sebuah dinding yang kehilangan beberapa batu, dengan pintu di tengah dan tanda ukiran di permukaan dinding.
Goresan arsitektur yang ditemukan oleh Kalayan di dinding barat daya kuil yang menunjukkan rencana setengah pedimen.

Pada masa Bizantium, sebuah gereja dibangun di dalam dinding kuil.[22][26] Orientasi bangunan diubah dari barat laut menjadi ke timur; pintu utama kuil ditembok, dan pintu baru dibuka di dinding barat daya cella. Platform adyton dan dinding belakang dibongkar dan dinding timur laut diganti dengan apse ganda.[22][71] Apsis tersebut memiliki chevet poligonal bersisi empat dan berbentuk tapal kuda dengan bukaan 32 meter (105 ft) untuk apse utara dan 357 meter (1.171 ft) untuk apse selatan.[72] Seluruh bagian dari apse selatan terawat hingga transom apse, yang terletak pada 33 meter (108 ft) dari lantai cella saat ini.[72] Sebuah cetak timbul memisahkan dinding apse dari kubah semi di atasnya. Kualitas stereotomi apsis sebanding dengan balok kuil kuno yang digunakan kembali; menurut Krencker dan Zschietzschmann, apsis tersebut berasal dari periode Bizantium awal.[23][24]

Modifikasi lebih lanjut dilakukan pada gereja tersebut pada Abad Pertengahan. Sebuah pilar batu persegi panjang setinggi 433-meter (1.421 ft) ditambahkan ke dinding penghubung kedua apsis. Ada tiga pilar serupa lainnya di sudut utara, barat, dan selatan cella yang dipindahkan selama restorasi kuil tahun 1990-an. Pilar-pilar tersebut menopang kubah selangkang yang menutupi dua nave kapel abad pertengahan.[23][24] Dua lukisan tahun 1838 dari fasad kuil menggambarkan sebuah gerbang yang diatur di interkolumnasi (jarak antar pilar) tengah pronaos. Pada awal abad kedua puluh, hanya sisi kiri gerbang yang tersisa seperti yang ditunjukkan oleh foto yang diambil selama periode itu.[73] Arkeolog Lebanon-Armenia Levon Nordiguian berpendapat bahwa pronaos mungkin berfungsi sebagai narthex gereja atau mungkin dikhususkan bagi jemaat wanita melalui pintu akses terpisah ini.[24]

Selain perubahan arsitektur, beberapa ukiran salib Kristen ditemukan di kuil tersebut. Varian salib memberikan informasi tentang berbagai tahap kristenisasi situs tersebut. Sebuah salib Latin dan beberapa salib bifid (bercabang dua) yang mirip dengan varian Suriah Timur ditemukan di kuil. Beberapa salib bifid tertutup dalam lingkaran.[74] Makam batu bawah tanah ditemukan di sebelah selatan kuil.[62]

Gambar hitam putih bagian depan reruntuhan kuil ionik yang memperlihatkan pintu masuk besar dan pintu samping yang lebih kecil. Dua anak dengan penutup kepala duduk di sebelah kanan fasad kuil.
Foto kuil Bziza yang diambil oleh Henri Lammens pada tahun 1894.

Asal-usul kata modern temple (kuil) adalah kata Latin templum. Namun, kata templum merujuk pada kawasan suci tempat aedes (tempat suci atau kuil) dibangun. Fungsi utama aedes adalah untuk menampung citra kultus (arca) dewa, yang biasanya ditempatkan di adyton kuil-kuil Romawi di Lebanon.[75][76] Adyton adalah ruang terdalam kuil yang terletak di bagian belakang cella.[14][75] Kuil Bziza adalah sebuah aedes yang mengikuti tatanan ini; adyton-nya yang ditinggikan dapat dicapai melalui serangkaian anak tangga.[14] Peribadatan Romawi tidak dilakukan di dalam aedes itu sendiri karena bangunan tersebut tidak memiliki fungsi jemaat selayaknya tempat ibadah agama monoteistik modern; aedes hanya dapat diakses oleh imam, augur, dan individu-individu tertentu yang memiliki hak istimewa. Ritual keagamaan dan pengorbanan Romawi dilakukan di atas altar, yang disucikan bagi dewa kuil tersebut, yang selalu terletak di luar di bagian depan aedes tempat para umat berkumpul. Pengaturan ini mencerminkan sifat publik dari jabatan keagamaan Romawi, yang kontras dengan karakter privat dari layanan keagamaan modern.[75][77] Di pelataran kuil, para umat akan menghadap ke pintu aedes, dalam jarak pandang ke arah citra dewa tersebut.[78]

Dalam risalah arsitekturnya, arsitek Romawi Marcus Vitruvius Pollio mengemukakan aturan mengenai penyelarasan kuil:

Arah hadap kuil para dewa abadi harus ditentukan berdasarkan prinsip bahwa, jika tidak ada alasan yang menghalangi dan pilihannya bebas, kuil dan patung yang ditempatkan di dalam cella harus menghadap ke arah langit barat. Hal ini akan memungkinkan mereka yang mendekati altar dengan persembahan atau kurban untuk menghadap ke arah matahari terbit saat memandang patung di dalam kuil, dan dengan demikian mereka yang sedang mengucapkan kaul memandang ke arah dari mana matahari muncul, dan demikian pula patung-patung itu sendiri tampak muncul dari timur untuk memandang mereka yang sedang berdoa dan berkurban.

Vitruvius, De Architectura Libri Decem, IV:v:1

Kuil Bziza adalah satu dari sedikit kuil Romawi di Lebanon yang mematuhi aturan ini karena kuil tersebut berorientasi ke arah barat laut; di Bziza, citra kultus tersebut diterangi oleh matahari terbenam melalui pintu masuk kuil.[79]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]
^aKota-kota Fenisia yang menjadi koloni Romawi: Beirut (colonia Iulia Augusta Felix Berytus), Baalbek (colonia Iulia Augusta Felix Heliopolis), Acre (colonia Claudia Stabilis Germanica Ptolemais Felix), Tirus (colonia Septimia Tyrus), Sidon (colonia Aurelia Pia metropolis Sidoniorum), Arqa (colonia Caesarea ad Libanum).[80]
^b Renan menjelaskan dalam laporannya: Dans le Liban, le B initial (Bteda, Bteddin, Bhadidat, etc.) est en général une abréviation pour Beth. De même, dans la Gémare, "בי" pour "בית". [Di Lebanon, awalan B (Bteda, Bteddin, Bhadidat, dll.) umumnya merupakan singkatan dari Beth. Demikian pula, dalam Gemara, "בי" untuk "בית".] Dalam bab selanjutnya ia menegaskan interpretasi sebelumnya: Le B initial est sans doute le reste de Beth, conservé dans Bziza= Beth-Aziz, Beschtoudar= Beth-Aschtar, Derbaschtar= Deir Beth-Aschtar. [Awalan B tidak diragukan lagi merupakan sisa dari Beth, yang dilestarikan dalam Bziza = Beth-Aziz, Beschtoudar = Beth-Aschtar, Derbaschtar = Deir Beth-Aschtar.] (Renan 1864). Toponimi dan atribusi kuil ini didukung oleh sejarawan dan ahli Onomastologi di kemudian hari.[81][82][83][84]
^c Bziza dilafalkan Bzizo di desa-desa pegunungan Lebanon Utara karena bertahannya pergeseran Kanaan dari vokal (ā) menjadi (ō).[85][86]
^dYakni koordinat.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Aliquot 2019, hlm. 112.
  2. Etheredge 2011, hlm. 130.
  3. 1 2 Aliquot 2019, hlm. 117.
  4. Lucian 1913, verses 9–10.
  5. 1 2 Aliquot 2019, hlm. 120.
  6. Aliquot 2019, hlm. 113–115.
  7. Sommer 2013, hlm. 70.
  8. Aliquot 2019, hlm. 121.
  9. 1 2 Salles 1995, hlm. 571.
  10. "2 Kings 16:3–4". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 28, 2019. Diakses tanggal November 28, 2019.
  11. Ball 2002, hlm. 322.
  12. Aliquot 2019, hlm. 120–121.
  13. Ball 2002, hlm. 334.
  14. 1 2 3 4 5 6 7 Aliquot 2012, hlm. 51.
  15. Hughes 1947, hlm. 173.
  16. Eusebius 2018, Book 3, Chapter 1.
  17. Kirsch 2005, chapter "Let the curiosity of to know the future be silenced forever".
  18. Hughes 1947, hlm. 172.
  19. Sozomen 1855, Chapter 5.
  20. Theodosius II & 438, 9.17.2.
  21. Theodosius II & 438, 16.10.3.
  22. 1 2 3 4 Lendering, Jona (November 23, 2018). "Bziza". www.livius.org. Livius. Diarsipkan dari asli tanggal March 31, 2018.
  23. 1 2 3 4 5 Krencker & Zschietzschmann 1978, hlm. 5.
  24. 1 2 3 4 Nordiguian 2016, hlm. 396.
  25. 1 2 Renan 1864, hlm. 134–135.
  26. 1 2 Abu-Izzeddin 1963, hlm. 24.
  27. Dussaud 1921, hlm. 67–68.
  28. Renan 1864, hlm. 134, 238.
  29. Hourani 1997.
  30. Knuts 2008, hlm. 413.
  31. 1 2 Nordiguian 2016, hlm. 395.
  32. Krencker & Zschietzschmann 1978, hlm. 3–7.
  33. Kalayan 1965.
  34. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aliquot 2012, hlm. 50.
  35. 1 2 Kalayan 1971, hlm. 269.
  36. "Lebanese postage stamps featuring the temple of Bziza". Colnect.com. Colnect. September 18, 2019. Archived from the original [1],[2],[3] on September 18, 2019. Retrieved September 18, 2019.
  37. 1 2 3 Teixidor 1979, hlm. 68–71.
  38. Jordan 2014, hlm. 40.
  39. Drijvers 1972, hlm. 359.
  40. Patrich 1990, hlm. 113.
  41. de Lagarde 1889, hlm. 16.
  42. 1 2 Drijvers 1972, hlm. 370.
  43. 1 2 Smith & Goldziher 1903, hlm. 302.
  44. Jordan 2014, hlm. 30.
  45. 1 2 Julian & 362, verse 150.
  46. Zellmann-Rohrer 2017, hlm. 349–362.
  47. Bowen 1869, hlm. 46.
  48. 1 2 Dirven 1999, hlm. 237.
  49. Fink 1931, hlm. 462.
  50. "Bziza – Localiban". www.localiban.org. Localiban. July 2, 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 22, 2019. Diakses tanggal September 11, 2019.
  51. Kahwagi-Janho 2020, hlm. 251.
  52. Kahwagi-Janho 2020, hlm. 251–252.
  53. "Ain Aakrine – Localiban". www.localiban.org. Localiban. July 25, 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 22, 2019. Diakses tanggal September 22, 2019.
  54. Lendering, Jona (September 4, 2019). "Ain Akrine (Qasr Naous) – Livius". www.livius.org. Livius. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 4, 2019. Diakses tanggal September 22, 2019.
  55. 1 2 3 Kahwagi-Janho 2020, hlm. 252.
  56. Winter & Fedak 2006, hlm. 31.
  57. Dentzer-Feydy 1999, hlm. 530–531.
  58. Wright 2009, hlm. xlvii.
  59. De Blois, Funke & Hahn 2004, hlm. 134.
  60. Kahwagi-Janho 2020, hlm. 253.
  61. Kahwagi-Janho 2016, hlm. 192.
  62. 1 2 Skeels & Skeels 2001, hlm. 239.
  63. 1 2 Sommer 2013, hlm. 71.
  64. Kalayan 1971, hlm. 271.
  65. Nordiguian 2016, hlm. 391.
  66. Inglese 1999, hlm. 2.
  67. Pomey 2009, hlm. 59.
  68. Corso 2016, hlm. 43, 75–76.
  69. Capelle 2017, hlm. 796.
  70. 1 2 Nordiguian 2005, hlm. 192.
  71. Aliquot 2012, hlm. 52.
  72. 1 2 Nordiguian 2016, hlm. 394.
  73. Nordiguian 2016, hlm. 395–396.
  74. Garreau Forrest 2011, hlm. 193–214.
  75. 1 2 3 Aldrete 2004, hlm. 150.
  76. Yasmine 2009, hlm. 129.
  77. Taylor 1971, hlm. 13–14.
  78. Taylor 1971, hlm. 14.
  79. Taylor 1971, hlm. 12.
  80. Aliquot 2019, hlm. 114–115.
  81. ʿAbboudi 1988, hlm. 226.
  82. Dibs 1902, hlm. 224.
  83. Garreau Forrest 2011, hlm. 197.
  84. Iskandar 2001, hlm. 143.
  85. Cross 1980, hlm. 14.
  86. Feghali 1918, hlm. 21.

Bibliografi

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]

Media terkait Roman temple of Bziza di Wikimedia Commons